Friday, October 16, 2009

Berita Dari Indonesia : Pengakuan Amaq Bakri Sebagai Nabi Resahkan Masyarakat



"Itu merupakan yang pertama terjadi di NTB, karena itu pemerintah diminta segera menghentikan ajaran yang disebarkan Amaq Bakri, sekaligus mencabut pernyataannya sebagai nabi untuk menghindari amuk massa," katanya kepada ANTARA News di Mataram, Jumat.

Amaq Bakri yang mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW dan telah melakukan Mi`raj pada Rabu (14/10) itu telah dipanggil Camat Sambelia dan disidang di depan anggota Muspika, sekaligus menjelaskan ajarannya.

"Amaq Bakri harus membuat pernyataan tertulis, sekaligus bertobat atas ajaran yang disebar dan kembali ke ajaran yang benar, yakni ajaran Islam," katanya.

Jika hal itu dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan masyarakat bisa berbuat anarkis terhadap Amaq Bakri.

Tindakan anarkis di Lombok sudah sering terjadi terhadap siapa saja yang mengaku sebagai umat Islam tetapi ajarannya menyimpang dari Agama Islam, termasuk Ahmadiyah.

"Buktinya hingga kini sekitar 130 orang jemaat Ahmadiyah masih ditampung di asrama Transito, Majeluk Mataram setelah rumahnya di Gegerung, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat dirusak dan dibakar massa empat tahun lalu," katanya.

Jika Amaq Bakri tetap saja mengaku sebagai nabi, maka dia sudah mejadi kafir, sebab nabi terakhir yang diturunkan Allah SWT adalah Nabi Muhammad SAW.

Dalam pertemuan dengan Camat Sambelia dan anggota Muspika Amaq Bakri tidak hanya mengaku sebagai nabi, tetapi juga mengatakan bahwa Al Quran yang dijadikan pegangan umat Islam bukan berasal dari firman Allah.

"Al Quran adalah hasil buatan atau karya alim ulama sebab Al Quran yang sesungguhnya berada dalam diri manusia yang tidak bisa dimiliki sembarang orang," kata Amaq Bakri.

Ia menambahkan untuk mendapatkan Al Quran yang asli harus melalui ritual yang hanya dilakukan pada setiap tanggal 12 Rabiulawal atau bulan Maulid pada malam Jumat. (*)

Berita Dari Indonesia : 15.000 Siswa Indonesia Kuliah di Malaysia


16 October 2009- Konsul Pendidikan di Kedubes Malaysia untuk Indonesia, Datuk Dr Junaidy Abu Bakar DM SM SSP BCM, menyatakan 15.000 siswa/mahasiswa Indonesia saat ini menempuh studi (kuliah) di berbagai universitas di Malaysia.


“Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) merupakan universitas favorit bagi siswa/mahasiswa Indonesia, bahkan tahun ini saja tercatat 800 siswa/mahasiswa Indonesia yang kuliah di UKM, tapi umumnya master (S2) dan doktoral (S3),” katanya di Surabaya, Jumat (16/10).

Setelah melakukan kunjungan ke Universitas Airlangga (Unair) Surabaya bersama Wakil Rektor UKM Prof Dr Datuk Mohammad Abdul Razak, Datuk Junaidy mengatakan, siswa/mahasiswa Malaysia yang saat ini kuliah di Unair tercatat 178 orang.
“Kalau siswa/mahasiswa Malaysia yang kuliah di Jatim tercatat 300-an orang, yakni 179 orang belajar di Unair dan sisanya di Malang. Kalau se-Indonesia ada 6.000-an siswa/mahasiswa Malaysia yang sedang studi di sini,” katanya.
Menurut Datuk Junaidy, meski ada ketegangan antara Indonesia dengan Malaysia, tapi hal itu tampaknya tidak berpengaruh dalam hubungan pendidikan antara kedua negara serumpun itu, bahkan ibarat berkenalan dengan gadis, pendekatan sudah semakin mengalami kemajuan.

“Jadi, ketegangan dalam isu-isu tertentu tidak mempengaruhi hubungan dalam dunia pendidikan, bahkan tidak ada larangan siswa/mahasiswa Malaysia untuk belajar ke Indonesia. Kalau ada beberapa universitas yang menghentikan penerimaan siswa/mahasiswa Malaysia itu bukan akibat ketegangan itu, melainkan ada masalah lain, seperti Unair yang ingin membuka Kelas Internasional untuk mahasiswa asing dari banyak negara,” katanya.

Ke depan, katanya, tidak menutup kemungkinan akan ada pakar budaya dan politik Indonesia di Malaysia dan sebaliknya akan banyak pula pakar budaya dan politik Malaysia di Indonesia.

“Dulu, Australia menjadi tujuan utama dari siswa/mahasiswa Indonesia, tapi perbedaan jarak, bahasa, tradisi, dan rumitnya urusan visa akhirnya membuat mereka melirik Malaysia dan Singapura,” katanya.

Dikatakan Datuk, Indonesia dan Malaysia sebenarnya tidak perlu membiarkan perbedaan yang ada, tapi justru mempererat persamaan yang ada, karena Indonesia-Malaysia adalah bangsa serumpun dan kerja sama antara keduanya akan berdampak pada kemajuan ASEAN